Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

(0324) 6-1234-33

Email

info@uinmadura.ac.id

Perayaan Maulid Nabi di Tanah Madura: Tradisi Bhu’rebbhu’ dan Ruang Tumbuh Psikologis Generasi

  • Diposting Oleh Admin Web PSI
  • Senin, 24 Agustus 2026
  • Dilihat 148 Kali
Bagikan ke

Oleh: Umarul Faruk, M.Psi.

Bi Hurmatin Nabi Muhammad..

Mahallul Qiyam..

Demikian lantunan yang menjadi penanda dimulainya Mahallul Qiyam dalam rangkaian pembacaan Shalawat Barzanji, sebagai ungkapan penghormatan dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, sosok Sang Revolusioner Dunia yang membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Lantunan tersebut menjadi bagian yang begitu akrab terdengar di tengah masyarakat, khususnya pada bulan Rabiul Awal, ketika umat Islam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan penuh suka cita.

Dimana Bulan Maulid Nabi Muhammad SAW memiliki makna yang sangat kuat dalam kehidupan masyarakat Madura. Perayaan Maulid tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi ruang sosial yang mempertemukan keluarga, tetangga, anak-anak, remaja, dan masyarakat secara lebih luas. Di sejumlah wilayah Madura, perayaan bahkan berlangsung hampir sepanjang bulan secara bergiliran dari satu rumah ke rumah lainnya. Masyarakat saling mengundang, bersilaturahmi, membaca shalawat, mendengarkan ceramah, serta berbagi makanan. Tradisi ini menunjukkan bahwa Maulid memiliki fungsi sosial dan psikologis yang lebih luas daripada sekadar perayaan keagamaan.

Salah satu tradisi yang menarik adalah Bhu’rebbhu’ atau tradisi berebut. Sesaat ketika shalawat dan qiyam dibacakan, anak-anak hingga remaja berebut makanan ringan, buah-buahan, atau uang yang digantung, misalnya pada pohon pisang atau diikat di sekitar mushala. Bagi masyarakat Madura, tradisi tersebut memiliki makna keberkahan dan menjadi bagian dari kegembiraan anak-anak dalam menyambut Maulid. Sebagian besar masyarakat memandang Bhu’rebbhu’ sebagai bentuk pedagogi moral berbasis budaya yang dapat berkaitan dengan pembentukan karakter religius anak.

Dari perspektif psikologi, fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui Teori Sosiokultural Vygotsky. Teori ini memandang bahwa perkembangan psikologis, terutama perkembangan kognitif dan sosial anak, tidak dapat dilepaskan dari lingkungan sosial dan budaya tempat anak tumbuh. Anak belajar melalui interaksi dengan orang dewasa, teman sebaya, serta berbagai praktik budaya yang berlangsung di lingkungannya.

Dalam konteks Bhu’rebbhu’, anak tidak sekadar "berebut makanan". Mereka sedang mengalami proses belajar sosial secara langsung. Anak belajar mengikuti aturan, menunggu momentum, berinteraksi dengan teman sebaya, mengelola emosi ketika mendapatkan atau tidak mendapatkan sesuatu, serta memahami nilai-nilai yang ditanamkan oleh keluarga dan masyarakat. Aktivitas yang tampak sederhana tersebut dapat menjadi pengalaman perkembangan yang bermakna karena berlangsung dalam konteks budaya yang dikenal dan dialami anak secara langsung. Aktivitas bermain dan interaksi sosial juga dapat mendukung perkembangan kemampuan sosial serta regulasi diri anak.

Lebih luas lagi, tradisi Maulid dari rumah ke rumah menciptakan ruang interaksi sosial lintas generasi. Anak-anak bertemu teman sebaya, remaja berinteraksi dengan masyarakat, sementara orang dewasa membangun dan memperkuat hubungan sosial. Dalam perspektif Vygotsky, pengalaman sosial dan budaya semacam ini menjadi bagian dari proses internalisasi nilai. Nilai kebersamaan, berbagi, menghormati orang lain, bersyukur, bershalawat, dan menjaga silaturahmi tidak hanya disampaikan melalui nasihat, tetapi dialami secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, Bhu’rebbhu’ dan tradisi Maulid di Madura dapat dipandang sebagai ruang perkembangan psikologis berbasis budaya. Selama pelaksanaannya tetap memperhatikan keselamatan, keteraturan, dan nilai kebersamaan, tradisi tersebut bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga dapat menjadi media belajar sosial, pengembangan regulasi diri, pembentukan karakter, dan penguatan ikatan sosial masyarakat.

Pada akhirnya, Maulid di Madura memperlihatkan bahwa perkembangan manusia tidak berlangsung hanya di sekolah atau ruang keluarga. Budaya, tradisi, interaksi sosial, dan pengalaman bersama juga menjadi ruang pendidikan psikologis bagi generasi berikutnya. Melalui Maulid, anak-anak bukan hanya mengenal kisah dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi juga belajar menjadi bagian dari masyarakat yang saling berbagi, menghargai, dan menjaga silaturahmi.

Shollu alan nabi Muhammad..